Menelusuri Lokasi Keraton Demak Bintoro (Bag. 1)

peta kasultanan demak

Oleh M Kholidul Adib

Pendahuluan
Ketika Pangeran Jin Bun dinobatkan sebagai Sultan Demak tahun 1478 M dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fattah, ia diberi nasihat oleh Sunan Bonang untuk membuat keraton sebagaimana dituturkan dalam Babad Demak bait ke-4 pupuh 38. Sunan Bonang berkata: “Tuan, kalau tuan akan membangun keraton Demak, hendaklah dibangun seperti Majapahit. Dan bilamana tuan menjadi raja, hendaklah berbuat baik sesama orang” (Arif & Sukatno, 2010: 338).

Bila keraton Demak dibangun seperti keraton Majapahit berarti keraton Demak sangat besar dan megah. Selama ini masyarakat masih penasaran dengan keberadaan bangunann dan lokasi keraton Demak Bintoro. Lantas, dimanakah lokasi keraton Demak berada?

Guna menganalisis keberadaan keraton Demak Bintoro perlu digunakan beberapa pendekatan keilmuan yang bersifat komprehenship, tidak semata mengacu pada ilmu sejarah. Dalam tradisi masyarakat Jawa setelah terdapat pengaruh Islam, biasanya tidak jauh dari letak keraton terdapat bangunan masjid, letak bangunan keraton pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa kebanyakan menghadap ke arah utara.

Sebagaimana diungkapkan Tome Pires, seorang mata-mata Portugis yang berkunjung ke Demak tahun 1506 M (dikutip dalam De Graaf & Pigeaud, 2003: 38) bahwa pusat kota keraton Demak pada tahun 1506 berada tidak jauh dari bibir pantai selat Silugangga atau selat Muria yang menghubungkan dengan Kudus dan Jepara di semenanjung Muria di sebelah utara pulau Jawa. Keberadaan sungai Tuntang juga terkait dengan lokasi keraton Demak Bintoro.

Petanda pusat Kasultanan Islam adalah Masjid Agung Demak yang bersejarah yang diyakini sudah ada sejak pada masa Kasultanan Islam Demak pada abad 16 M silam. Masjid Agung Demak sangat dikenal luas dan menjadi ikon kota Demak Bintoro.

Karena sudah tidak ditemukan bentuk fisik dari bangunan keraton Demak, maka peneliti sejarah mencoban mengkajianya melalui toponim berupa nama-nama kampung yang mengacu pada hubungannya dengan bangunan keraton Demak seperti nama Bintara , Krapyak , Taubayan , Betengan , Gendingan , Pedhalangan , Sampangan , Tukangan , Penjalan , Tirtoyudan , Kembangan , Domenggalan , Beguran , Pandean , Sempal wadak , Tembiring , Karangbayan , Kalisusukan , Setinggil , Kauman , Merbotan , Petengan , Pecinan , Pungkuran , Sorogenen , Bale Kambang , Wonosalam , Jogoloyo , Bogorame , Mangunjiwan dan lain-lain (Akasah, 2006: 25-42).

Teori Umum Lokasi Keraton
Wertheim berpendapat bahwa tata kota keraton kuno di Jawa terdapat alun-alun yang terletak di tengah-tengah kota atau di depan bangunan keraton. Bangunan penting yang lazim di arah barat alun-alun adalah bangunan masjid yang biasanya disebut Masjid Agung, Masjid Raya atau Masjid Jami’. Meskipun sudah mengalami perbaikan biasanya Masjid Agung di bekas pusat kota Kasultanan masih banyak yang dapat disaksikan sekarang seperti di Demak, Cirebon, Banda Aceh, Martapura, Sumenep, dan lainnya (Setyaningdyah, 2003:3).

Salah satu ciri yang menjadi petanda lokasi keraton seperti halnya terdapat di beberapa keraton lama adalah dilingkari parit atau sungai-sungai buatan, di samping sungai alamiah. Keraton-keraton lama abad 16 M yang semacam itu dapat disaksikan di Demak Bintoro, Cirebon, Banten dan lainnya. Hal yang sama juga masih dipakai oleh keraton-keraton pada abad ke-18 M seperti di Yogjakarta dan Surakarta.

Kompleks bangunan keraton biasanya dipisahkan dari bangunan-bangunan lainnya oleh tembok keliling, parit atau sungai buatan. Susunan halamannya dibagi menjadi tiga bagian utama, mengingatkan kita pada tradisi pembuatan komplek candi-candi pada masa Indonesia Hindu dan bangunan Pura di Bali.

Demikian halnya dengan lokasi Kasultanan Demak Bintoro yang menurut pesan Sunan Bonang kepada Sultan Fattah agar dibangun seperti Keraton Majapahit, dengan maksud bahwa Demak secara politik merupakan penerus Majapahit, maka lokasi Keraton Demak tidak jauh dari sungai Tuntang yang mengalir dari Rawa Pening di lembah gunung Ungaran dan Telomoyo di pedalaman Jawa Tengah menyusur ke arah utara melalui daerah Bringin ke Godong lalu masuk Demak, mengalir di sebelah timur alun-alun Demak lalu belok di sebelah utara alun-alun Demak lalu mengarah barat laut menuju laut Jawa. Kondisi bangunan mungkin meniru bangunan Keraton Majapahit sebagaimana pesan Sunan Bonang kepada Sultan Fattah.

Sejauh ini sudah ada beberapa penelitian para akademisi untuk mencari bekas bangunan Keraton demak di antaranya adalah hasil penelitian tim peneliti dari IAIN Walisongo tahun 1975 M yang menyimpulkan ada tiga kemungkinan lokasi Keraton Demak.

Pertama: bekas Keraton Kasultanan Demak itu tidak ada. Kemungkinan ini disimpulkan dari keterangan bahwa Raden Fattah mulai menyebarkan Islam di Demak semata-mata untuk kepentingan Islam. Pendirian Masjid Agung Demak yang dilakukan bersama para Walisongo merupakan simbol Kasultanan Demak. Sedangkan kediaman Raden Fattah bukan berupa istana megah, melainkan rumah biasa yang diperkirakan berletak di sekitar Stasiun Kereta Api sekarang.

Kedua, mengingat letak masjid pada umumnya tak jauh dari istana, letak Keraton Demak diperkirakan berada di sebelah selatan dan timur alun-alun. Kemungkinan ini didasarkan pada nama-nama perkampungan yang diduga memiliki latar belakang historis seperti Sitinggil (Sitihinggil), Betengan, Pungkuran, Sampangan, dan Jogoloyo. Ketiga, letak Istana Demak berhadapan dengan Masjid Agung, menyeberangi sungai, ditandai adanya dua pohon pinang.

Kemudian penelitian dari Fakultas Sastra Undip tahun 1994-1995 M yang menyimpulkan bahwa lokasi Keraton Demak berada di dekat Masjid Agung dan alun-alun. Ditinjau dari segala aspek, baik secara historis, kultural, ekologis, politis, dan ekonomis, Keraton Demak paling relevan berada di sebelah selatan [bagian timur] alun-alun, menghadap ke utara, pada lokasi dan daerah yang oleh masyarakat setempat disebut Setinggil.

Selanjutnya, hasil Penelitian Tim Pencarian Pusat dan Tata Letak Pemerintahan Kerajaan Islam Demak [Dipimpin Ir Sudjadi] Berdasarkan hasil tes geolistrik, yakni pemetaan wilayah menggunakan foto udara, juga hasil diskusi para peneliti, disimpulkan bahwa Keraton Kasultanan Demak berada di sekitar Masjid Agung yang sekarang berdiri Kantor Kejaksaan Negeri. Di lokasi ini pernah ditemukan juga keramik-keramik dari masa Kasultanan Demak Bintoro.

* Penulis adalah sekretaris Komunitas Pecinta Cagar Budaya (KPCB) Demak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s